Minggu, 09 November 2008

Seputar Pendidikan 1

ED Center Jatim
Harapan Punya Peran Strategis di Pendidikan



Education Development Center adalah sebuah lembaga khusus yang concern pada masalah pendidikan dengan harapan mampu menjadi media komunikasi dan interaksi yang intens bagi para stakeholders pendidikan.
Dengan visi dan misi untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Jawa Timur yang berpendidikan dengan memiliki kualitas imtaq dan iptek untuk meewujudkan sistem pendidikan yang kompetitif.
Dengan menggagas beberapa kegiatan progam, diantaranya adalah Cafe pendidikan, ED klinik, ED galeri, ED R & D (Research & Development), serta ED media yang kesemuanya akan diharapkan mampu untuk menunjang pendidikan yang berkualitas terutama di Jawa Timur.
Seperti yanng diungkapkan oleh Drs. H.Soeparno, MM selaku Direktur Utama ED Centre Jatim dalam kata sambutannya menyatakan bahwa tujuan didirikannya ED Centre ini adlah untuk menciptakan iklim kondusif dan kualitas kompetitif bagi dunia pendidikan nasional pada umumnya dan di Jatim pad khususnya melalui penyediaan data informsi seputar pendidikan, pengkajian terhadap kebijakan pendidikan dan penyediaan ruang bagi terjadinya dialog publik dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.
Menurutnya Education Development Index (EDI) Indonesia sebesar 0,935 dan Human Development Index (HDI) pada tahun 2007 adalah sebesar 0,728 masih jauh dibawah negara-negara seperti Malaysia (0,945) dan Brunei Darusslam (90,965)
”Angka ini memposisikan indonesia pada urutan ke-107 negara-negara di dunia. Rendahnya mutu SDM Indonesia tersebut terutama disebabkan masih lemahnya kontrol masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan nsional,”urainya.
Soeparno mengatakan bahwa salah satu faktor yang membelakangi adlah karena masih belum meratanya pendidikan di Indonesia terutama bagi kalangan miskin. Hal ini bisa kita lihat dari masih banyaknya terjadi kesenjangan antar desa dan kota, antar sekolah anak-anak miskin dan orang kaya.
”Di Jawa Timu, sebenarnya pencapaian angka partisipasi dalam sekolah dasar cukup menggembirakan. Penghargaan Widyakrama yang ditrima Jawa Timur merupakan bukti penilaian Pemerintah Pusat bahwa Jatim berhasil menyelesaikan program wajar dikdas (Wajib Belajar Pendidikan Dasar) 9 tahun. Dari 95% standar yang ditetapkan oleh pemeintah, Jatim berhasil memperoleh sebesar 96,84%,”tambahnya.
Sedangkan pidato pembukaan oleh Gubernur Jatim Imam Utomo dibacakan oleh Kadinas Infokom Jatim Drs. Suwanto, M.Si. Dalam pidatonya tersebut, Imam Utomo mengatakan bahwa menejemen pendidikan harus ditata dan bisa dilaksanakan dengan optimal.
”Menejemen pendidikan perlu untuk dprhatikan. Karena dengan menejemen yang baik dan dilaksanakandengan maksimal, nantinya tentu akan berimbas terhadap mutu pendidikan di Jawa Timur,”ucap Suwanto.
Sedangkan untuk membangun mutu dan mualitas pendidikan di Jatim, Imam Utomo telah mengatakan bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) adalah untuk memulai pembangunan pendidikan mulai dari pendidikan dasar yang bermutu.
”Melalui RPJMD sejak tahun 2006-2008 saja, selama dua tahun tersebut kami berusaha membangun mutu dan kualitas mulai dari pendidikan dasar Sehingga Jatim mampu menuntaskan wajar dikdas dengan angka partisipasi kasar (apk) sebesar 96,84% dari standar yanng ditetapkan oleh pemerintah sebesar 95%,”tambahnya.
Sementara itu, Gubernur yang akan meletakkan jabatannya tahun ini tersebut mengungkapkan bahwa wajar dikmen 12 tahun, yang akan meneruskan jejak wajar dikdas 9 tahun masih banyak kendala, akan tetapi Imam yakin bahwa masalah tersebut bukan menjadi masalah yang berarti.
”Wajar dikmen 12 tahun merupakan proyeksi Pemerintah Propinsi untuk rencana jangka menengah selanjutny. Masih banyak kekurangan sehinnga diperlukan upaya dan wujud kepedulian dari semua pihak untuk mengatasinya. Berkaitan dengan pemberia dana pendidikan bagi siswa yang tidak mampu akan dialokasikan dana 40% dari APBD Propinsi, 30% dari APBD Kab/Kota, dan 30% dari pencairan dana BOS,”ujarnya.

Cafe Pendidikan
Sebagai cafe, tempat ini juga tidak jauh berbeda dari kafe-kafe yang lain. Ada meja dan kursi ala cafe pada umumnya, ada waiters, kasir, dan menu pada setiap meja tamu.
Yang membedakan adalah fungsi dari kafe pendidikan yang dimiliki oleh ED Centre ini yaitu digunakan senagai ruang diskusi publik bagi pengunjungnya terutama yang berkaitan dengan maslah-masalah pendidikan di Jatim.
”Ini sebagai konsumsi pendidikan. Bagi yang merasa punya waktu dan ingin ngobrol atau diskusi santai tentanng pendidikan bisa disini (cafe pendidikan). Kami juga telah menggandeng beberapa expert pendidikan guna dimintai keterangan ataupun untuk menindaklanjuti apa yang telah didiskusikan dalam forum,”kata Soeparno serius.
Jadi image cafe sebagai tempat kumpul masih terjaga, serta mampu memberikan fungsi untuk ngobrol positif guna memajukan mutu dan kualitas pendidikan di Jatim pada khususnya.
Tapi Soeparno menyangkal kalau cafe pendidikan nantinya digunakan oleh orang berkepentingan lain untuk mengarahkan dan mengubah wacana pendidikan didalam masyarakat.
”Tidak, kami akan memposisikan diri kamidi tengah-tengah. Dan kami hanya ingin memfasilitasi bagi stakeholders pendidikan untuk bisa mencurahkan segala keluh kesah, opini, serta membahas issue public yang berkaitan dengan pendidikan dan penelitian,”tambah Soeparno.
Menurutnya akan ada banyak kegiatan yang terjadwal dan akan dilaksanakan di cafe pendidikan.
Diantaranya adalah diadakannya Focus Group Disscusion yang diselenggarakan secara berkala (peiodik) dengan menghadirkan expert dan pakar pendidikan, pengelola pendidikan, guru, jurnalis, mahasiswa, siswa, wali siswa dan seluruh stakeholders pendidikan untuk menghasilkan gagasan yang konstrutif bagi pembagunan pandidikan Jawa timur ke depan.
Selain itu, Talk Show dan pemutaran Audio Visual serta Bedah Buku akan menjadi nilai plus bagi cafe pendidikan ini. Selain untuk menambah khasanah pengetahuan, setiap hasil dari forum diskusi akan menjadi media building issue yang nantinya akan dimuat dan disebarkan melalui media massa.
Soeparno juga mengatakan bahwa ide dan konsep awal dibentuknya ED Centre merupakan pengalamannya didunia pendidikan yang telah dijalaninya puluhan tahun.
”Ide ini berangkat dari pengalaman saya begelut didunia pendidikan yang cukup lama. Mutu pendidikan dari SDM di Indonesia yang masih kalah dibandingkan negara-negara lain. Jadi ED Centre ini adalah untuk membantu pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dengan cara mewujudkan standar minimal mutu pengelola pendidikan, terutama berkaitan dengan profesionalisme guru, manajemen dan administrasi sekolah.
Harapannya adalah untuk mensinegiskan pola keja antara Diknas dengan berbagai lembaga mutu pendidikan,”ungkapnya penuh harapan.@Sony

Tidak ada komentar: