Selasa, 11 November 2008

Ragam info pendidikan 8

Wajah Guru Masa Kini

Mengapa manusia memilih menjadi guru. Kenikmatan apa yang diperoleh dari pilihan hidup menjadi guru. Kenikmatan materialkah?, Kenikmatan batinkah?, atau kenikmatan lainnya. Banyak orang menduga dengan peningkatan gaji guru (kesejahteraan guru), maka akan meningkatkan kualitas pendidikan. Yakinkah bila gajiguru ditingkatkan minimal sebesar gaji gubernur akan meingkatkan kualitas pendidikan. Guru memang butuh kesejahteraan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan jangan sampai guru miskin materi. Betulkah peningkatan kesejahteraan ekonomi (materi kebendaan) guru sebagai indikator utama untuk peningkatan kualitas pendidikan. Bagaimanakah wajah-wajah guru masa kini yang dihadapkan pada tugas mendidik-mengajar dan kebutuhan kesejahteraan ekonomi?
Manusia memanng makhluk surga. Tidak ada manusia ke depan yang ingin hidupnya lebih suram dari sebelumnya. Semua manusia waras ingin hidupnya semakin lama semakin baik, lebih sejahtera, lebih bahagia, lebih nikmat. Itulah manusia sebagai makhluk surga, karena surga memang tempat kebahagiaan dan kenikmatan. Guru juga manusia, tak luput dari keinginana tersbut. Adam (nabi adam) beserta ibu Hawa adlah manusia manusia pertama, semula mereka berada di surga. Saking nikmatnya surga, lupa ada larangan tidak boleh memetik/memakan “buah kuldi” dilanggarnya. Nampaknya buah kuldi adalah berbentuk benda fisik atau material. Akhirnya, mereka berdua diturunkan ke bumi. Kita sebagai manusia saat ini adalah keturunan mereka berdua.
Guru berwajah guru. Seharusnya kenikmatan menjadi guru diperoleh dari keberhasilannya dapat mengantarkan anak didik menjadi manusia dewasa dalam cara berfikirnya, kedewasaan rasa (“emosi”) dan kedewasaan fisik anak didik. Itulah, seharusnya guru merasa nikmat bila berhasil dalam mengajar dan mendidik anak didik menjadi dewasa. Bila ada guru mengharap kenikmatan dari perolehan pendapatan yang besar semata, maka akan terjerumus seperti memakan “buah kuldi”, artinya akan kecewa (kecelik). Kekecewaan guru tesebut antaralain berupa ketidakberhasilan mendidik dan belum tentu kaya harta bisa diperolehnya.
Kesilauan material dunia telah menyinari dunia pendidikan yang terpantulkan ke wajah-wajah guru. Para guru sekarang mengejar materi dengan tanpa menghiraukan prilaku seorang guru. Banyak kejadian peserta didik yang gagal masuk suatu sekolah bukan karena tidak mampu berkompetisi pada ujian masuk sekolah, tetapi gagal karena tidak mampu membayar uang wajib biaya seragam sekolah. Banyak para murid mendapatkan nilai jelek karena tak mampu biaya kursus pada gurunya. Banyak guru dan sekolah menjual buku dengan harga yang mencekik orang tua murid, harga buku mahal. Banyak guru dan sekolah di kota besar mewajibkan murid baru untuk membayar uang gedung (uang pangkal) yang juga mencekik wali murid, biaya uang gedung tinggi. Sehingga para guru dapat keuntungan materi dari “bisnis”itu. Tampak mereka berpenampilan elit kemewahan tidak kalah seperti hartawan (businesman). Merasa nikmat atau bahagia kah mereka?
Namun tidak sedikit pula guru yang tak punya harta, bisa berangkat dan pulang ke sekolahan dapat naik sepeda buntut sudah untung, tyerutama guru di pedesaan dan pedalaman. Apabila para guru yang tak mampu harta terbawa guru lain yang penuh elit kemewahan dengan cara bisnis “memeras wali murid” maka tidak sedikit terbawa sinar kesilauan materi kemewahqn dunia, itu dilakukan. Sehingga tugas seorang guru untuk mengantarkan pserta didik ke kedewasaan terabaikan. Kalau para murid juga anak orang miskin harta, orang tua murid tidak akan dapat “diperas”,disisi lain guru terlanjur tergiur kesilauan material kemewahan, tak jarang mereka membeli barang dengan cara angsuran (kridit) sampai gajinya habis dipakai membayar beberapa angsuran hutang.
Ronggo Warsito telah menulis dalam karya sastranya “luwih becik dodol dawet karo rengeng-rengeng, tinimbang numpak sedan mengkilap karo drenginging” (lebih baik jualan minuman dawet sambil berdendang, daripada naik mobil sedan mewah sambil menangis tersedu-sedu), nampaknya itu telah terabaikan. Saat ini ada yang telah terjadi, banyak oarang silau dengan kemewahan ingin naik mobil baru dengan cara kridit, tidak mampu dipaksakan, akhirnya gajinya habis untuk membayar kridit. Karena pendapatan habis untuk membayar angsuran, mereka bingung dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Bingung kekurangan uang itulah ibarat “menangis tersedu-sedu”. Saat ini banyak orang memilih “lebih baik menangis tersedu-sedu sambil naik mobil mewah, daripada jualan minuman dawet,” termasuk sebagian para guru. Akhirnya tugas seoarang guru terabaikan. Kita berharap “dapat naik mobil mewah sambil berdendang”.
Bagaimana yang akan datang menciptakan kondisi wajah guru yang tak muram dan tak silau kemewahan. Menciptakan wajah guru yang bersahaja dan tekun pada profesinya. Pertama, dimulai dari perekrutan (recruitment) calon guru. Perekrutan calon guru biasanya dimulai sejak penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). Perguruan tinggi LPTK antara lain: IKIP, FKIP, FIP dan lain-lain. Seharusnya perekrutan calon mahasiswa di LPTK selain dilakukan ujian umum seperti ujian masuk perguruan tinggi (UMPT) dilakukan pula ujian khusus seperti ujian minat bakat keguruan dan ujian kepribadian. Dengan demikian akan diperoleh mahasiswa yang memang dirinya sudah niat bulat ingin menjadi seorang guru dan memiliki kepribadian yang baik.
Kedua, perekrutan guru. Pada perekrutan guru ini, sebaiknya tidak sekadar ujian secara umum dan sol ujian dari tahun ke tahun tetap itu saja. Namun sebaiknya dilakukan ujian yang dapat mengukur loyalitas terhadap pendidikan dan negara, mengukur kemampuan bidang keilmuannya, mengukur fisik dan psikologis kejiwaannya. Dengan dmikian akan mendapatkan guru yang berkualitas dalam keilmuan, sehat jasmani-rohani, berjiwa guru, loyal pada dunia pendidikan dan negara.
Ketiga, seluruh guru digaji oleh negara (prmerintah). Setelah diterima menjadi guru sebaiknya pemerintah menggaji sluruh guru secara cukup (layak) sesuai golongan, pangkat, dan jabatannya. Dengan demikian seluruh guru di negeri ini adalah guru. Tidak seoerti saat ini, ada guru bantu, guru honorer, guru yayasan, guru PNS, guru DPK, dan lain-lain jenis guru. Walau semua itu guru, tetapi kesejahteraannya berbeda karena kekuatan yang nenggaji berbeda.
Keempat, diadakan pertemuan/penyegaran dan test kesehatan guru secara periodik. Setelah menjadi guru, pada perjalanan menjalankan tugas keguruannya diperlukan penyegaran pada guru, seperti pertemuan ilmiah untuk saling tukar informasi perkembangan ilmu sesuai keilmuannya, selain itu untuk mengingatkan kembali bhwa mereka adalah guru dalam mentransfer ilmu harus dengan kasih sayang bukan dengan kekerasan/pemaksaan. Penyegaran itu bisa dilakukan setiap tahun. Selain itu, diperlukan test kesehatan pada guru. Test tersebut bisa dilakukan satu atau dua sekali secara periodik. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kesehatan guru terutama apakah guru mengidap penyakit menular, apakah sang guru masih sehat psikologinya. Jangan sampai anak didik diajar oleh guru yangb tidak sehat dan gila (sakit psikis), hal itu membahayakan peserta didik. Guru yang tak sehat fisik atau psikologisnya harus disembuhkan dulu, bila sudah sehat diperbolehkan mengajar kembali.
Tidak berlebihan bila pemerintah memberi perhatian terhadap guru. Guru merupakan ujung tombak dunia pendidikan dalam meningkatkan kualitas generasi bangsa. Pendidikaan akan berkualitas jika unsur utama gurunya berkualitas. Coba, apa yang terjadi, jika guru se indonesia mogok kerja selama sebulan, walau pejabat dan tenaga kerja administrasi di Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) tingkat pusat sampai tingakat kecamatan tetap kerja, dapat diduga dunia pendidikan akan merosot/ kacau balau. Namun sebaliknya jika para pejabat dan tenaga administrasi Depdiknas se indonesia mogok kerja sebulan, tetapi para guru tetap menjalankan tugasnya, dapat diduga bahwa dunia pendidikan akan tetap berjalan normal. Marilah kita ciptakan wajah-wajah guru yang bersahaja tak mudah silau, sehingga mereka dapat mengantarkan anak bangsa yang berkilau.@(Gems)

Tidak ada komentar: