Senin, 10 November 2008

Ragam Info Pendidikan 3

Sertifikasi dan batas kerja guru

Sesungguhnya sertifikasi gur adalh untuk meningkatkan kuallitas mengajar serta meningkatkan kualitas kesejahteraan guru. Namun kedua harapan tersebut indikasinya hanya mengejar tunjangan semata, sementara peningkatan mutu mengajar tampak jauh dari harapan. Mengapa demikan ?
Dilapangan yang ada adlah gejala keinginan para guru agar bisa maju dan lulus sertifikasi, sudah puas dan menunggu tunjangan cair. Namun untuk peningkatan kualitas masih tampak jauh dari yang diharapkan. Banyak guru yang sudahtersertifikasi, demikian pendapat Profesor Soelaiman Joesoef, Guru Besar Universitas PGRI Adi Buana Surabaya di ruang kerjanya.
”Hakikat sertifikasi guru itu adalah untuk agar mutu guru bisa meningkat. Tetapi sudah banyak guru yang sudah lulus sertifikasi, namun mutu kelulusan masih saja seperti ini. Contoh yanng banyak lulus sertifikasi guru itu di kota-kota besar. Tetapi nilai kelulusan tertinggi siswa malah diraih dari daerah (SMP diraih Tulungangung, Lamongan dll). Mestinya diraih kota-kota besar Surabaya, Malang, Jember, Madiun. Kok malahan Tulungagung,”katanya.
Sisi lain, masa kerja guru untuk bisa maju sertifikasi juga belum jelas. Ada yang masa kerja 18 tahun, 10 tahun, bahwa ada yang 5 tahun sudah bisa maju. ”Yang benar batas maksimal masa kerja berapa tahun ? Sebab ada seorang guru yang sudah berbakti 10 tahun lebih belum juga dipanggil untuk maju sertifikasi. Setelah guru tersebut menanyakan ke dinas Pendidikan, baru boleh untuk maju sertifikasi. Mustinya didata dan diurut menurut masa kerja dan usia.Ini yang namanya adil.”kata Kasim, S. Pd, Guru BK di SMK 17 Agustus Surabaya.
Sertifikasi guru memang tidak sembarangan. Ini jelas harus jeli dan ekstra hati-hati jangan sampai guru yang sudah tersertifikasi tidak berubah sama sekali dalam melayani pendidikan. Gayanya masih tidak berubah sama sekali dalam melayani pendidikan. Gayanya masih tidak berubah, Wawasanya juga masih kurang, apalagi masih merangkap mengajar dibeberap sekolah.”Ini yang tidak diharapkan bersama. Negara sudah mengeluarkan Anggaran yang besar, tetapi hasilnya masih seperti sedia kala,”tambah gatot,SE,guru hous keeping di SMK Pariwisata Surabaya.
Lain halnya Drs. Solikin Fanani, M. Ag, Kepala SD Muhammadiyah 4 Surabaya mengatakan dengan jeli tentang sertifikasi guru, menurutnya, sertufikasi guru adalah untuk menyambungkan kebutuhan masyarakat harus diserap oleh sekolah. Hal ini membutuhkan SDM guru meningkat. Jadi jangan hanya mengejar tunjangan semata-mata.”Kebutuhan masyarakat nenyekolahkan putra-purinya agar bisa bermanfaat ditengah masyarakat setelah lulus nanti. Menyambungkan kebutuhan masyarakat dengan pembelajaran disekolah ini sangat penting. Jangan sampai anak didik setelah lulus malah tidak bisa berkerja dan tidak tau akan kemana. Lebih-lebih menyimpang dari harapan orang tua,”ujarnya.
Lebih jauh Solikin fanani mengatakan bahwa untuk tunjangan dan peningkatan mutu guru itu,tidak hanya terbatas pada sertifikasi . Yang penting tujuanya kena. Yaitu peningkatan mutu guru dan sekaligus kesejahteraannya meningkat pula. Mustinya sertifikasi guru harus dibatasi hingga tahun 2015. Pemerintah jangan terpatok masalah sertifikasi guru saja. Banyak garapan-garapan lain. Masih banyak garapan pemerintah untuk hal yang sama.”Dan hasinya pun juga harus dievaluasi. Berguna kan sertifikasi guru, atau malahan mubazir,”tanbahnya.
Sementara itu Yunanto Hasan,SE, guru fron office di SMK perhotelan Surabaya juga menyinggung sertifikasi yang banyak nuansa didkriminatif harus segera dipertimbangkan. Sebab selama ini yang banyak disertifikasi yang banyak nuansa diskriminatif adalah guru negri. Sedangkan guru swasta sangat minim.”Kalau untuk mencerdaskan anak-anak bangsa tidak ada bedanya guru negri atau guru swasta. Yang membedakan adalah penghasilan guru negri dan guru swasta. Guru negri dibayar berdasarkan golongannya, dan guru swasta dibayar dari jumlah jam mengajarnya.Itupun dibawah standar minimal Rp. 150 ribu sebulan. Mangkanya banyak yang merangkap mengajar, Ini untuk memenuhi kebutuhan keluargannya. Makanya perlunya good will dari pemerintah dalam hal ini. Litian dan pengembangan Univer Jangan guru negri saja yang sitas PGRI Adi Buana Surabaya. Digerojok tunjangan,”tegas guru yang soleh ini setelah penerimaan rapot siswa disekolahnya beberapa waktu yang lalu pada INFO.
Pendidikan memang harus serius. Artinya semua pihak yang berkecimpung didunia pendidikan harus sungguh-sunngguh. Sebab garapan lahanya adalah menyiapkan generasi mendatang untuk mmegang kendali negara dan bangsa. Nasib negara dan bangsa di tangan generasi muda.
Apabila ini gagal, maka gagal pula tujuan negara dan bangsa.
”Karenanya membangun pendidikan ya jangan disamben(sekedarnya). Bagaimana cara menghasilkan yang maksimal apa bila disamben.
Jelas tidak bisa dengan gaya dan wawasan seadanya. Harus sunggu-sungguh,”kata Ir. Joko Sutrisno,ketua peneliti dan pengembangan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Alumni ITS ini juga meningkatkan bahwa apabila ada sekolah yang mencari keuntungan finansial saja.
Kalau ada siswa yang pintar tetapi kurang mampu finansialnya, ya harus dibantu. Ya harus diantar hingga lulus
Jangan sampai ada siswa yang motol (putus) krena tidak bisa dibayarSSP,”ujarnya.

Tidak ada komentar: