Festifal Dalang cilik
Untuk pengembangan dan pelestarian seni tradisional dikalangan pelajar, Subdin kebudayaan dinas pendidikan dan kebudayaan Profinsi Jawa Timur mengadakan festifal dalang bagi usia sekolah. Tak kurang 17 dalang cilik yang trdiri dari pelajar SD dan SMP dari daerah berbagai daerah di Jawa Timur tampil memukau penonton di Pendopo kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Profinsi Jawa Timur di Kawsan Jalan Jagir Surabaya.
Berbagai lakon wayang di lakonkan oleh para siswa. Cerita Wisanggeni Krido oleh Rian Wahyu, siswa klas 6 SD Negeri Babadan 2, Ngambe, Kabupaten Ngaw. Bimo Bungkus (kelahiran Bima Sena/Werkudara) Oleh Nanda, siswa kelas 2 SMP Negeri Prambon 1 Kabupaten Blitar. Aji Narantoko oleh Paksi Candra Wibaksu, siswa kelas 6 SD Negeri Sukojayan 1 Kabupaten Nganjuk, dan berbagai lakon wayang lainnya lagi.
Nanda, siswa kelas 2 SMP Negeri Prambon 1 Kabupaten Blitar mengangkat cerita Bimo Bungkus. Yang singkat alur ceritanya sulitan Dewi Kunti dalam melahirkan anaknya yang nernama Haryo Bimo. Dalam penuturan Ki Dalang Clik tersebut, Haryo Bimo terlahir dengan masih dibunkus selaput tipis cairan kental beserta ari-arinya sekaligus. Selaput tipis yang menyelimuti sanng cabang bayi Bimo, konon selaput pembungkus bayi, sulit dipecahkan oleh semua senjata ampuh yang ada iperbekalan senjata di Negara Hastina Pura. Namun berkat tapa brata Dewi Kunti agar pembungkus bayi tersebut bisa pecah, dan Dewata Agung mendengar serta mengutus para dewan dan brata untuk mengabulkan permohonan Dewi Kunti. Maka datanglah seorang satria yang yang berperawakan tinggi besar dan bersenjatakan dua belah pedang panjang serta panjang bak sepasanng taring gading gajah. Satri tersebut mennghampiri Dewi Kunti yang sedang berdoa dalam semedinya.
”he, Dewi Kunti, aku diutus Dewata Agung untuk membantumu dalam ksulitan,”sapa Satria dengan suara parau.
”Siapakah Kisanak, dan dari mana asalmu Kisanak ?” ganti Dewi Kunti bertanya.
”Oh kau ditanya belum menjawab,suah ganti bertanya,” sahut Satria dengan didirngi tawa berkepanjangan. Dewi kunti diam sejanak, dan tatapanya dalam-dalam satria Satria yang berdada bidang tersebut. Satria tahu persis bila diperhatikan dengan sunngguh-sungguh, maka derai tawanya meledak lagi seakan meledakkan tembok-tembk taman kabuter Dewi Kunti.
”Aku adalh Raden Gajah Angin dan Asalku aslku dari kolong langit dan berlantai bumi. Aku mendengar mendengar kabar dari para pedagang yang lewat bahwa permaisuri Prabu Pandu Dewanata, Raja Hastina Pura sedang dirudung susah. Yaitu melahirkan seorang anak yang terbungkus oleh selaput lendir dan dililit usus beserta ari-arinya. Dan tolong perkanan kan saya mengisis selaput jabang bayimu dengan sepasang pedangku,”pinta Raden Gajah Angin.
Singkat cerita, selaput bayi bisa pecah dan seketika itu terdengar suara tangis bayi melengking. Dalam pada itu juga dengan segenp prajurit jaga berhamburan berdesakan masuk taman kaputren dengan senjata terhunus kuatir ada mara bahaya yang datang.
Namun setelah melihat Dewi Kunti menggendong bayinya dan menyusuinya, para prajurit jaga sarempak bersimpuh menghantur sembah. ”Maafkan hamba tuan putri,”Suara kepala prajurit jaga dengan terbata-bata. ”Terima kasih prajurit, aku tak kurang sesuatu.Sudah kembalilah ketugas jagamu,”perintah Dewi Kunti.
Sekembalinya para prajurit jaga, taman kaputren menjadi sepi kembali, rupanya bayi tersebut sudah tidur pulas dalam gendongan ibunda. Dewi Kunti terhenjar sekejap tatkala mendengar suara lirih Raden Gajah Angin mohon pamit dan kemudian meloncat keluar pagar tembok taman kaputren dengan cekatan. Angin semilir berhembus pelan, dan semakin memulaskan tidur bayi Sang Bimo.
Dewi Kunti menegadakan wajahnya keatas, terlihat mendung pekat bergerak kebarat, Semakin lama semakin tebal. Tetep air hujan sudah mulai jatuh. Dewi kunti bergegas masuk keperaduan
Untuk pengembangan dan pelestarian seni tradisional dikalangan pelajar, Subdin kebudayaan dinas pendidikan dan kebudayaan Profinsi Jawa Timur mengadakan festifal dalang bagi usia sekolah. Tak kurang 17 dalang cilik yang trdiri dari pelajar SD dan SMP dari daerah berbagai daerah di Jawa Timur tampil memukau penonton di Pendopo kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Profinsi Jawa Timur di Kawsan Jalan Jagir Surabaya.
Berbagai lakon wayang di lakonkan oleh para siswa. Cerita Wisanggeni Krido oleh Rian Wahyu, siswa klas 6 SD Negeri Babadan 2, Ngambe, Kabupaten Ngaw. Bimo Bungkus (kelahiran Bima Sena/Werkudara) Oleh Nanda, siswa kelas 2 SMP Negeri Prambon 1 Kabupaten Blitar. Aji Narantoko oleh Paksi Candra Wibaksu, siswa kelas 6 SD Negeri Sukojayan 1 Kabupaten Nganjuk, dan berbagai lakon wayang lainnya lagi.
Nanda, siswa kelas 2 SMP Negeri Prambon 1 Kabupaten Blitar mengangkat cerita Bimo Bungkus. Yang singkat alur ceritanya sulitan Dewi Kunti dalam melahirkan anaknya yang nernama Haryo Bimo. Dalam penuturan Ki Dalang Clik tersebut, Haryo Bimo terlahir dengan masih dibunkus selaput tipis cairan kental beserta ari-arinya sekaligus. Selaput tipis yang menyelimuti sanng cabang bayi Bimo, konon selaput pembungkus bayi, sulit dipecahkan oleh semua senjata ampuh yang ada iperbekalan senjata di Negara Hastina Pura. Namun berkat tapa brata Dewi Kunti agar pembungkus bayi tersebut bisa pecah, dan Dewata Agung mendengar serta mengutus para dewan dan brata untuk mengabulkan permohonan Dewi Kunti. Maka datanglah seorang satria yang yang berperawakan tinggi besar dan bersenjatakan dua belah pedang panjang serta panjang bak sepasanng taring gading gajah. Satri tersebut mennghampiri Dewi Kunti yang sedang berdoa dalam semedinya.
”he, Dewi Kunti, aku diutus Dewata Agung untuk membantumu dalam ksulitan,”sapa Satria dengan suara parau.
”Siapakah Kisanak, dan dari mana asalmu Kisanak ?” ganti Dewi Kunti bertanya.
”Oh kau ditanya belum menjawab,suah ganti bertanya,” sahut Satria dengan didirngi tawa berkepanjangan. Dewi kunti diam sejanak, dan tatapanya dalam-dalam satria Satria yang berdada bidang tersebut. Satria tahu persis bila diperhatikan dengan sunngguh-sungguh, maka derai tawanya meledak lagi seakan meledakkan tembok-tembk taman kabuter Dewi Kunti.
”Aku adalh Raden Gajah Angin dan Asalku aslku dari kolong langit dan berlantai bumi. Aku mendengar mendengar kabar dari para pedagang yang lewat bahwa permaisuri Prabu Pandu Dewanata, Raja Hastina Pura sedang dirudung susah. Yaitu melahirkan seorang anak yang terbungkus oleh selaput lendir dan dililit usus beserta ari-arinya. Dan tolong perkanan kan saya mengisis selaput jabang bayimu dengan sepasang pedangku,”pinta Raden Gajah Angin.
Singkat cerita, selaput bayi bisa pecah dan seketika itu terdengar suara tangis bayi melengking. Dalam pada itu juga dengan segenp prajurit jaga berhamburan berdesakan masuk taman kaputren dengan senjata terhunus kuatir ada mara bahaya yang datang.
Namun setelah melihat Dewi Kunti menggendong bayinya dan menyusuinya, para prajurit jaga sarempak bersimpuh menghantur sembah. ”Maafkan hamba tuan putri,”Suara kepala prajurit jaga dengan terbata-bata. ”Terima kasih prajurit, aku tak kurang sesuatu.Sudah kembalilah ketugas jagamu,”perintah Dewi Kunti.
Sekembalinya para prajurit jaga, taman kaputren menjadi sepi kembali, rupanya bayi tersebut sudah tidur pulas dalam gendongan ibunda. Dewi Kunti terhenjar sekejap tatkala mendengar suara lirih Raden Gajah Angin mohon pamit dan kemudian meloncat keluar pagar tembok taman kaputren dengan cekatan. Angin semilir berhembus pelan, dan semakin memulaskan tidur bayi Sang Bimo.
Dewi Kunti menegadakan wajahnya keatas, terlihat mendung pekat bergerak kebarat, Semakin lama semakin tebal. Tetep air hujan sudah mulai jatuh. Dewi kunti bergegas masuk keperaduan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar