Kenapa masih ada tes masuk ?
Banyak daerah yang memberlakukan tes bagi siswa yang ingin meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.Misalnya dari lulusan SD ke SMP.Dari SMP ke SMA.Padahal mereka sudah lulus unas yang kapasitasnya berstandar nasional. Hasil Unas, yang berstandar Nasional masih harus dites dengan standar daerah. Rancu memang.
Lulusan Unas walau meraih nilai baik daan bernilai pas-pasan apabila ingin masuk kejenjang yang lebih atas,harus mengikuti tes daerah. Misal diKabupaten Gresik, Sidoarjo, kabupaten Madiun dan banyak lagi. Namun juga masih ada daerah yanng masih menggunakan hasil kelulusaan Unas.
Fenomena apa ini ? Dr. Gempung Santosa, PengurusDewan Pendidikan Daerah Jawa Timur mengatakan bahwa daerah yang masih menggunakan tes bagi Penerimaan Siswa Baru (PSB) itu sama halnya tidak percaya pada nilai murni Unas (Danem). Mungkin meragukan akan nilai hasil jerih payah anak didik dalam menempuh Unas. Mangkanya harus lewat tes di daerah.” Ujarnya dengan senyum sinis”
Sementara itu gasil jelajah INFO dengan orang tua murid saat pendaftaran di daerah Sidoarjo, Gresik dan banyak tempat lainya juga mengutarakan bahwa disamping tes juga disertai pula Surat Rekomendasi dari daerahnya masing-masing.Persyaratan surat rekomendasi sangat banyak dan tidak mungkin membutuhkan waktu singkat. Ada surat pengantar kepala Sekolah ke cabang Dinas setempat. Ada kartu ujian, Ada rapot terakhir, Ada pass photo, Ada nilai hasil Unas (Danem), KTP Orang tua murid.” Yang semuanya harus diberikan kepada dinas pendidikan Kota/Kabupaten. Dan baru bisa mendapatkan Surat Rekomendasi. Ini salah satu syarat mendaftar di lain kota. Belum syarat-syarat lainnya. Itu saja belum tentu lulus,” keluh Susisto yang putranya lulus SD Surabaya dan mendaftar ke lain daerah karna mengikuti pekerjaan oranng tua yang pindah pula.
”lho anak saya sudah tes. Padahal nilai Unas anak saya cukup lumayan, rata-rata 8 lebih. Dengan lewat tes, bisa-bisa hasil Unas yang baik bisa tidak lulus.Dan tidak menutup kemungkinan yang hasil Unas pas-pasn bisa lulus tes PSB,” ujar ibu Ririn di Bungah, Gresik saat mengambil formulir pendaftaran untuk putranya.
Ujian, tes, seleksi atau apalah namanya penyogyanya harus melalui bobot dan jenjang yang jelas. Ada Ujian /tes setingkat kabupaten dan kota (Ujida) dan ada pula ujian yang berstandart nasional. Ini semua harus ditata agar tidak rancu di lapangan.” Wong sudah lulus tingkat nasional, masih diragukan dengan jalan di tes lagi di daerah. Nanti kalau tes disaerah sudah lulus masih di tes ditingkat sekolah. Wah ini rancu namanya.” kata Salim Bahrowi pada saat pendaftaran.
Pemerhati pendidikan Drs. Heru Wijanarko mengutarakan bahwa fenomena ini adalh cermin ketidakpercayaan sesama lembaga pendidikan. Bisa juga sudah kronis, dan semua daerah sudah menngunggulkan daerahnya masing-masing.”Semua ingin gagah-gagahan.Ingin lain dengan yang lain. Ini sudah payah. Hasil Ujian Nasional masih diragukan lagi dengan harus mengikuti Ujian Daerah masih diragukan dan dan harus mengikuti Ujian Sekolah. Ujian sekolah masih diragukan dengan dan harus mengikuti Ujian Dari Guru masing-masing. Ini budaya apa yang berkembang. Semua tidak percaya dengan semua. Inginya lebih unggul saja. Kalau seperti ini ya tidak usah di adakan Ujian Nasional (Unas). Langsung aja Ujian Sekolah masing-masing. Ingin masuk SMP, ya SMP setempat yang menguji. Ingin masuk SMA, ya SMA setempat yang menguji. Ini lebih Liberal kan.”keluh Heru Wijanarko @ Pudianto
Banyak daerah yang memberlakukan tes bagi siswa yang ingin meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.Misalnya dari lulusan SD ke SMP.Dari SMP ke SMA.Padahal mereka sudah lulus unas yang kapasitasnya berstandar nasional. Hasil Unas, yang berstandar Nasional masih harus dites dengan standar daerah. Rancu memang.
Lulusan Unas walau meraih nilai baik daan bernilai pas-pasan apabila ingin masuk kejenjang yang lebih atas,harus mengikuti tes daerah. Misal diKabupaten Gresik, Sidoarjo, kabupaten Madiun dan banyak lagi. Namun juga masih ada daerah yanng masih menggunakan hasil kelulusaan Unas.
Fenomena apa ini ? Dr. Gempung Santosa, PengurusDewan Pendidikan Daerah Jawa Timur mengatakan bahwa daerah yang masih menggunakan tes bagi Penerimaan Siswa Baru (PSB) itu sama halnya tidak percaya pada nilai murni Unas (Danem). Mungkin meragukan akan nilai hasil jerih payah anak didik dalam menempuh Unas. Mangkanya harus lewat tes di daerah.” Ujarnya dengan senyum sinis”
Sementara itu gasil jelajah INFO dengan orang tua murid saat pendaftaran di daerah Sidoarjo, Gresik dan banyak tempat lainya juga mengutarakan bahwa disamping tes juga disertai pula Surat Rekomendasi dari daerahnya masing-masing.Persyaratan surat rekomendasi sangat banyak dan tidak mungkin membutuhkan waktu singkat. Ada surat pengantar kepala Sekolah ke cabang Dinas setempat. Ada kartu ujian, Ada rapot terakhir, Ada pass photo, Ada nilai hasil Unas (Danem), KTP Orang tua murid.” Yang semuanya harus diberikan kepada dinas pendidikan Kota/Kabupaten. Dan baru bisa mendapatkan Surat Rekomendasi. Ini salah satu syarat mendaftar di lain kota. Belum syarat-syarat lainnya. Itu saja belum tentu lulus,” keluh Susisto yang putranya lulus SD Surabaya dan mendaftar ke lain daerah karna mengikuti pekerjaan oranng tua yang pindah pula.
”lho anak saya sudah tes. Padahal nilai Unas anak saya cukup lumayan, rata-rata 8 lebih. Dengan lewat tes, bisa-bisa hasil Unas yang baik bisa tidak lulus.Dan tidak menutup kemungkinan yang hasil Unas pas-pasn bisa lulus tes PSB,” ujar ibu Ririn di Bungah, Gresik saat mengambil formulir pendaftaran untuk putranya.
Ujian, tes, seleksi atau apalah namanya penyogyanya harus melalui bobot dan jenjang yang jelas. Ada Ujian /tes setingkat kabupaten dan kota (Ujida) dan ada pula ujian yang berstandart nasional. Ini semua harus ditata agar tidak rancu di lapangan.” Wong sudah lulus tingkat nasional, masih diragukan dengan jalan di tes lagi di daerah. Nanti kalau tes disaerah sudah lulus masih di tes ditingkat sekolah. Wah ini rancu namanya.” kata Salim Bahrowi pada saat pendaftaran.
Pemerhati pendidikan Drs. Heru Wijanarko mengutarakan bahwa fenomena ini adalh cermin ketidakpercayaan sesama lembaga pendidikan. Bisa juga sudah kronis, dan semua daerah sudah menngunggulkan daerahnya masing-masing.”Semua ingin gagah-gagahan.Ingin lain dengan yang lain. Ini sudah payah. Hasil Ujian Nasional masih diragukan lagi dengan harus mengikuti Ujian Daerah masih diragukan dan dan harus mengikuti Ujian Sekolah. Ujian sekolah masih diragukan dengan dan harus mengikuti Ujian Dari Guru masing-masing. Ini budaya apa yang berkembang. Semua tidak percaya dengan semua. Inginya lebih unggul saja. Kalau seperti ini ya tidak usah di adakan Ujian Nasional (Unas). Langsung aja Ujian Sekolah masing-masing. Ingin masuk SMP, ya SMP setempat yang menguji. Ingin masuk SMA, ya SMA setempat yang menguji. Ini lebih Liberal kan.”keluh Heru Wijanarko @ Pudianto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar