Senin, 10 November 2008

Opini 1

Perpustakaan
Adalah Kerajinan Ilmu, Tempat Berkembang Para Calon Intelektual

Kemajuan teknologi informasi telah membawa kita pada perubahan-perubahan pada berbagai lini kehidupan.
Jika ingin menjadi yang terdepan, mau taj mau kita harus mengikutinya. Perlu diketahui bahwa tidak semua informasi membuahkan pengaruh yang baik pada kita. Berbagai tabloid, majalah, koran, tayangan TV serta internet, banyak menyuguhkan berita-berita bernuansa negatif, yang justru dapat menurunkan tingkat kecerdasan seseorang. Berdasarkan sebuah penelitian di Amerika Serikat terhadap 80 hingga 10%, sama dengan menurunnya tingkat kecerdasan para pecandu narkotika.
Untuk menghindari terjadinya informasi yang overload, perlu adanya kemampuan untuk menyeleksi informasi. Untuk itulah, kita harus belajar tentang informasi Literacy, yang belakangan ini sering dibicarakan di seminar – seminar pendidikan.
Apakah informasi literacy itu ?
Informasi Literacy atau melek informasi adalah seperangkat keterampilan yang diperlukan untuk mencari, menelusuri, menganalisis dan memanfaatkan informasi yang harus dimiliki oleh setiap siswa atau setiap individu yang ingin berkembang jika tidak ingin menjadi insan yang terbelakang.
Institut Pendidikan di negara kita, selam ini telah menggarap pendidikan yang berorientasi pada upaya mengembangkan kecerdasan intelektual, (IQ) yang berkaitan dengan kegiatan mendefinisikan kata-kata, menciptakan rancangan-rancangan, objek-objek diluar diri manusia seperti: fisika, kimia, matematika, teknologi dsb, yang bersentral pada otak kiri saja. Padahal menurut Goleman ( seorang ilmuwan Amerika) IQ hanya mendukung maksimal 20% dari kesuksesan seseorang. Selebihnya, ditentukan oleh hal-hal lain yaitu berkembangnya kecerdasan EQ dan SQ yang sebenarnya dapat digarap dalam institut pendidikan, dengan memaksimalkan fungsi perpustakaan.
Tetapi sayang, perpustakaan masih dipandang sebelah mata. Bahakan disebagian besar sekolah-sekolah TK, SD, SLTP, SMA, perpustakaan dianggap bagian yang kurang penting. Pengelolaannyapun diambilkan dari para guru yang masih mempunyai siswa jam mengajar, atau Guru Honorer, bahkan tak jarang, jika ada pegawai administrasi yang kurang berperan, dibuangkah ia ke perpustakaan. Diaanggap tempat pembuangan pegawai kah ?
Menyikapi hal ini, sekelompok pejuang intelektual perpustkaan yang menamakan komunitasnya APISI ( Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia ),menawarkan suatu upaya baru yang belum pernah tersentuh oleh dunia pendidikan di indonesia, yaitu : ”Biarlah Dikbud, dinas terus dengan perjuangan mereka memajukan pendidikan diareal mereka dengan mengubah kurikulum, menciptakan sistem-sistem baru menetapkan target pencapaian,dsb. Dengan cara mereka sendiri, dengan memosisikan diri dengan kepala tangan, tangan, kaki, dan tubuh pendidikan itu sendiri, para Librarian akan mencoba memosisikan ”perpustakaan” sebagai jantung dan paru-paru ditubuh pendidikan, yang akan menapasi dan menghidupkan upaya pemerintah dalam perjuangannya memajukan pendidikan di indonesia”.
Oleh karena itu, sekaranglah waktunya Diknas mulai menoreh ke arah fungsi dan peran perpustakaan secara proporsional sebagai bagian penting dalam pendidikan. Perpustakaan bukan musium, tempat menyimpan buku-buku judul bak etalase mati. Perpustakaan adalah kerajaan ilmu, tempat berkembang para caloncalon intelektual yang akan membangun tahta pendidikan di Indonesia kelak.
Perpustakaan sekolah memegang peranan penting dalam upaya membekali siswa agar melek informasi. Setelah sekian puluh tahun lamanya perjuangan pendidikan kita memberantas buta huruf, sekaranglah saatnya kita sampai pada tahap berikutnya, yaitu memberantas buta informasi. Seorang pustakawati yang handal akan memerankan dirinya sebagai motor penggerak anak – anak didik berkepribadian ”intelek”, yang selalu haus akan buku. Bahwa sudah waktunya untuk mengintegrasikan perlunya melek informasi ini ke dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Menanamkan habits (kebiasaan) membaca pada anak-anak, akan menanamkan sentuhan intelektual,emosional,dan spiritual dalam jiwa seorang anak sehingga anak dapat lebih terampil dalam menganalisis dan memanfaatkan informasi atau sekarang disebut ” melek informasi ”
Orang yang melek informasi, akan belajar tentang kesuksesan, keberhasilan, kebahagiaan, kesehatan dan akan menjadi orang yang positif. Ia akan selalu mencari nilai positif dari setiap kejadian, juga mempunyai pola pikir yang dinamis, dan manusia yang dinamis secara IQ,EQ,dan SQ.
Melek informasi/literasi informasi sungguh merupakan keterampilan penting pada era global. Membludaknya informasi harus menjadi tantangan untuk mencapai tujuan yang lebih baik. Keterampilan untuk mencari, menemukan kembali, menganalisis dan memanfaatkan informasi, perlu ditanamkan kepada siswa/ anak sejak dini. Dengan demikian, akan tercapai output dari sekolah yang sesungguhnya, yaitu ”menjadikan manusia yang tangguh dan seimbang dalam pengetahuan, karakter, dan ”academic competency” sehingga dapat ”sukses” dalam kehidupan. Sebab, kemampuan seseorang dalam olah informasi, sangat menentukan kesuksesannya.

Tidak ada komentar: