Senin, 10 November 2008

Fenomena Ujian Nasional

Anak Penambang Pasir

Meraih NUN Tertinggi Se-Jatim

Yang namanya Allah memang Maha kuasa. Qun Fayakun, jika Allah SWT menghendaki jadi,apapun bisa terjadi. Buktinya,anak seorng penambang pasir di sungai bernama Ridho miftahul Diqi, pelajar SMAN 1 Gresik ini dikehendaki Allah meraih NUN tertinggi IPA tingkat SMA se-Jawa Timur pada UAN 2007/2008 ini. Nilai total yang dicapai Ridho 57,85. rinciannya Matematika 9,75; Fisika 8,5; Kimia 10; biologi10; Bahasa Indonesia9,8; dan Bahasa Inggris 9,8.

Saat diwawancarai majalah Info Kalidjo,Ridho mengaku belajarnya tiap habis magrib antara 2-3 jam. Ia tidak lupa sholat malam mendekatkan diri pada Allah SWT,agar bisa mengerjakan soal ujian nasional dengan lancar dan benar.

”Saya tak menyangka kalau bisa meraih NUN tertinggi IPA se Jaitm. Jadi rasanya ya senang sekali dan bersyukur bisa membuat orang tua puas dan sekolah juga senang,” kata Ridho saat ditemui di ruang kepala sekolah SMAN1 Gresik Jl. Arief Rahman Hakim No.1 Gresik.

”Keberhasilan kami ini juga tak lepas dari jasa bapak ibu guru yang telah mendidik kami sehingga berprestasi. Semoga prestasi kami ini diikuti oleh adik-adik kelas kami, sehingga SMAN 1 Gresik tetap unggul.

Anak pasangna Saudi dan Sus Mintarti ini mengaku bahwa dala belajarnya tidak pernah disuruh dan didampingiorng tua. Sebab ayahnya Saudi, kerjanya hanya hanya mencari pasir di sungai, sedang ibunya guru SD di luar kota Surabaya. Setelh luls Ridho mengaku ingin kuliah di STAN atau ITS. Sebab cita-citanya ingin menjadi seorang direktur perusahaan.

Kepala SMAN 1 Gresik Drs.Suyatno, MM saat di konfirmasi di ruang kerjanya juga mengaku bangga dan bersyukur anak didiknya bisa menunjukkan prestasi gemilang.

Menurutnya tidak hanya Ridho saja yang menduduki rangking IPA seJawa Timur ini.”Masih ada 2 siswi yang menduduki rangking IPA, yakni Santi yang meraih rangking 3 NUN IPA SMA seJatimdengan niali 57,65. dengan rincian Matematika10; Kimia 10; biologi10; Bahasa Indonesia10; dan Bahasa Inggris 9,4serta Fisika 8,25. Siswa lainnya Sungging mmenduduki rangking 5 NUN IPA SMA se Jawa Timur. Nilai total 57,25. dengan rincian Matematika10; Kimia 10; Fisika;8,5; Biologi9,75; Bahasa Indonesia9,4; dan Bahasa Inggris9,6.

Menurut Drs.Suyatno MM, dibantu Wakasek Kurikulum Dra. Lailatul Muniroh serta Wakasek humas Dra.Hj.DinikWahyuningsih, siswa-siswi SMAN 1 Gresik yang lulus tahun ini sudah diterima di UI, UGM, UM, Poltek Negeri Malang, UNESA, UNIBRAW, ITS, UNEJ, UNS Solo, dan UNAIR. Lainnya menempuh SPMB.

Saat ditanya mengapa hasil ujian SMP belum diumumkan kok sudah mengadakan tes terhadap calon siswa baru? Menurut Suyatno memang bagi sekolah yang sudah RSBI diperbolehkan menerima pendaftaran lebih awal dan melakukan testing. Ketentuan penerimaannya nantio hasil UAN dari SMP dan hasil tes dikalikan 30%, untuk akademik dikalikan 19% dan dirangking, itulah yang diterima. Nilai harus diatas 7. ”lha ini buku petunjuk dari Dinas P dan K Gresik ada, jadi kami tidak ngawur. Dan SMAN 1 Gresik ini kan sudah RSBI. Malah pada tahun ajaran 2008/2009 kami akan membuka kelas akselerasi, dalam rangka pelayanan pendidikan kepada masyarakat,” katanya.(Kal)

Ragam info pendidikan 6

MOS
Sebagai Ajang Pengembangan Diri Siswa

Mos, sebagai wahana pengenalan siswa pada sekolah barunya. Baik pengenalan dengan sesama siswa, pengenalan dengan guru, pengenalan dengan lingkungan sekolah serta pengenalan segala bentuk yang lainnya lagi.
Namun yang llebih utama adalah bahwa Mos seyogyanya dipakai sbagai ajang pengembangan diri siswa. Dalam pelaksanaan Mos akan tampak bakat siswa masing-masing dan juga bisa sebagai ajang pengembangan diri siswa. Karenanya pelaksanaan Mos akan diisi berbagai kegiatan yang bersifat informasi interaktif antara kakak-kakak kelas dan penjelasan-penjelasan dari guru. Kesadaran wiyata bahari, kesadaran peduli lingkungan, kesadaran gotong royong, tanya jawab interaksi, dan semua yang bersifat membngun mental spiritual siswa.
Septyaning Rahayu, Ratu Olivia, M. Alief Habibie, ketiganya siswa kelas 2 SMP Islam Maryam Surabaya mengaku senang bisa menggembleng adik-adik kelas (siswa baru. Dan menurut ketiganya Mos sangat penting karena akan bisa saling mengenal diantara siswa baru dan dengan kakak-kakak kelas.

Penegakan Disiplin
SMP Negeri 2 Majayan Kabupaten Madiun adalah salah satu sekolah favorit di wilayah Caruban. Betapa tidak! Sekolah tersebut sudah membuktikan sebagai prestasi yang pernah diraihnya.Baik prestasi akademik maupun nonakademik. Juara 1 lari, juara 1 smuda cup, juara 1 tenis meja, juara 1 volly putra, juara 1 seleksi porseni, tari tradisional, dan berbagai kejuaraan lainnya lagi.”Ini semua hasil komitmen dan kerjasama para guru, orang tua murid dan semua saja yang peduli akan majunya pendidikan. Yang lebih penting sekolah kami telahberhasil menegakkan kedisiplinan terhadap siswa. Kunci semua kesuksesan adalah disiplin,”ujar M. Sakirun,S. Pd, kepala SMPNegeri 2 Mejayan Kabupaten Madiun dengan didampingi Wakasek Hendro Suwondo, M. Pd, di ruang kerjanya pada INFO beberapa waktu yang lalu.
Lebih jauh Sakirun mengutarakan bahwa keberhasilan pendidikan harus bertumpu pada ilmu pedagogik. Sebab kalau para guru kurang paham dengan pedagogik, yang ada adalah bersifat pengajaran semata, bukan mendidik. Artinya anak didik hanya dijejali dengan kognisi. Padahal, lanjut Sakirun, tujuan pendidikan itu adalah membangun manusia yang utuh. Baik kognisi, sikap, perilaku dan moral agama. “Ketiganya inilah yang akan membentuk anak-anak didik menjadi pintar, cerdas dan berperilaku santun. Bukan hanya pintar, namun juga berakhlak,”papar Sakirun.
“Untuk mewujudkan kesemuanya ini, sekolah kami setiap hari sabtu untuk konsentrasi pada pengembangan diri siswa.
Artinya yang senang olahraga ya mendapat pembelajaran olahraga, yang suka seni tari, ya diajari tari, yang lebih mengutamakan keagamaan ya langsung mendapat bimbingan mental spiritual dan semua lebih terkonsentrasi pada minat bakat siswa. Hari-hari lainnya seperti sekolah pada umumnya,” tambah Hendro Suwondo. @ pudianto.

Ragam Info Pendidikan 5

SMP Siti Aminah Mengedepankan
Pembelajaran Mental Spiritual


Tujuan pendidikan adalah mencetak anak didik menjadi dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak serta dewasa dalam mental spiritual.karenanya dalam aplikasinya harus seimbang antara kognitif, psikomotorik dan afektif.
Dan dalam hal ini SMP Siti Aminah Surabaya juga menjaga antara bidang akademik dan non akademik.disamping kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dalam bidang studi Unas baru-baru ini, juga padat dengan pebelajaran ekstra kulikuler. Misal saja nilai rata-rata Unas tahun 2008 baru-baru ini telah meraih 34,10. sementara bidang ekstra kulikuler adalah Baca Tulis Al-Quran, Gerakan Pramuka, Seni Bela Diri Karate, Seni Sendra Tari(Tari Tradisional Dan Tari Modern),Seni Qosidah Dan Nasyid serta berbagai kegiatan lainnya lagi.
“kami memang mengkondisikan sekolah sebagai tempat belajar yang enjoi, joyfull dan beramah lingkungan. Upaya ini agar anak didik betah untuk belajar. Baik belajar di luar kelas, maupun diluar kelas.namun yang lebih utama dalam hal ini adalah pembangunan mental sprititual. Sebab harapan kami adalah menghasilkan kelulusan yang pintar, cerdas serta berbudi pekerti luhur,”urai Drs.H.Achmad Basori, kepala smp siti aminah surabaya did ruang kerjanya pada INFO.
Walhasil siswa SMP Siti Aminah Surabaya juga terpilih sebagai salah satu tim tingkat nasional gerakan pramuka beberapa waktu yang lalu.”ini semua adalah berkat kerja sama yang harmonis antara guru, siswa dan orang tua murid,”ujar guru yang sudah mengabdi pada dunia pendidik sejak tahun 1986 ini serius.
SMP Siti Aminah Surabaya masih dalam naungan Yayasan Abu Adnan dan yang diketuai oleh Hj.Zubaidah Lukman dan didirikan oleh H.Moch.Sukri Adnan (Alm) maju dengan cepat dalam kepemimpinan Drs. H.Achmad Basori. Bagaiman tidak ! gedung milik sendiri, sudah menggunakan sistem KTSP dan pendidikan agama terpadu, padat dengan berbagai ekstra kulikuler, mengadakan berbagai kegiatan diluar sekolah seperti LDKS,KTS, Ziaroh Wali, Tadabur Alam dan wisuda setiap kelulusan, menerbitkan buletin sekolah,serta waktu belajar pada pagi hari. “ bagi siswa yang berprestasi dari sekolah asal, kami bebeaskan uang gedung. Dan bagi guru yang beprestasi juga kami berikan penghargaan,” tambah achmad basori.

Minggu, 09 November 2008

Dinas Kabupaten / Kota

MENDIKNAS ROAD SHOW
KE LAMONGAN BOJONEGORO DAN TUBAN


Di Lamongan, orang nomor satu di Depdiknas itu menandatangani prasati peresmian SMKN 2 dan SMPN 2 Lamongan. Penandatanganan dilakukan di aula kantor dinas pendidikan Lamongan.
Hadir dalam acara itu Bupati Lamongan Masfuk, anggota Muspida, Sekkab Fadeli, Kepala Dinas Pendidikan Lamongan Mustofa Nur, para guru, kepala sekolah (Kasek), serta para siswa dan wali murid pererima BKSM (bantuan khusus siwa miskin).
Dari Lamongan,Mendiknas bersama rombongan, termasuk kepala Dinas P dan K Provinsi Jawa Timur Rasiyo, Ke Bojonegoro. Tiba di rumah dinas bupati, Sunyoto, sekitar pukul 12.00. Rombongan kemudian salat Jum’at di masjid setempat. Setelah itu Mendiknas memberikan sambutan di acara open house bupati yang rutin diadakan setiap usai Jumatan.
Dari acara open house rombongan menuju sekolah model terpadu (SMT) di Desa Sukowati, Kecamatan Kapas. Usai dari SMT rombongan itu menuju Tuban.
Terkait SMT Mendiknas menyatakan siap melakukan sharing untuk pngelolaannya. Dia juga menyatakan siap menurunkan tim khusus untuk menjajaki sharing antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabuaten terkait pengelolaan SMT tersebut. ” Termasuk model pengelolaannya, sebab investasi juga sudah cukup besar,” tuturnya.
Di Tuban, Mendiknas melakukan kunjungan akademis ke Universitas PGRI Ronggolawe Tuban. Rombongan Mendiknas menegaskan bahwa pemerintah akan mendukung setiap perguruan tinggi yang benar-benar serius dan punya komitmen kuat untuk maju. Dia juga memastikan ” kompetisi ” untuk mendapatkan bantuan akan dilakukan dengan mempertimbangkan bobot masing masing perguruan tinggi.

Buku Murah
Untuk mengantisipasi mahalnya harga buku dan sekolah jual buku, Depdiknas sedang berusaha membuat buku murah. Caranya, dengan memberi hak cipta buku paket pelajaran. ”saat ini Depdiknas telah membeli hak cipta 49 judul buku SD hingga SMA dan akan membeli lagi hak cipta 201 judul buku lag, ” ungkapnya.
Buku murah itu, tambah dia, bisa diperoleh dari jaringan pendidikan nasional (jardiknas) depdiknas. Buku tersebut telah ditentukan harga eceran tertinggi (HET)-nya. Nilainya hanya 1/3harga buku teresbut dipasran. ” buku tesebut juga haru dipakai minimal selama lima tahun agar bisa dipakia dik adiknya sehingga biaya sekolh menjadi lebih murah,” ungkapnya.

Kualitas dan Kesejahteraan Guru
Mendiknas juga mengungkapkan para guru di indnesia yang ber ijazah S-1 telah naik dari 30 persen mnjadi 41 persen. Kenaikan ini setelah adanya program sertufikasi.
” Peningkatan kualitas guru akan disertai dengan peningkatan kesejahteraannya. Ini merupakan salah stu program utama untuk peningkatan pendidikan i Indonesia,” tambahnya.mendiknas juga menambahkan sekolah berbasis informasi dan komunikasi mejadi misi utama kedepan. Saat ini, kata dia, 40 persen SMK, 30 persen SMP, dan 10 persen SD diseluruh Indonesia telah mempunyai laboratorium computer.
” Kedepan, daharpkan setiap siswa bisamempunyai laptop, sehingga bisa mengkses iptek dengan mudah,” terangnya. Sedangkan kepala Dinas P dan k Jawa Timur Rasiyo mengatakan, tahun ini jumlah bantuan khusus siswa miskin (BKSM) Rp.260 miliar untuk 333.000 siswa SMA/SMK/MA.
” BKSM sama dengan BOS, tetapi untuk siswa SMKA/SMK/MA terkait program wajib belajar (waajr) 12 tahun,” ungkapnya.

Sayangkan Sekolah Gay
Pembukuan sekolah khususuntuk kaum lesbian,gay,biseksual,transgender,interseks,danqueer (LGBTiQ) di surabaya di tanggapi serius Mendiknas.
Mendiknas menyayangkan berdirinya sekolah aktifis LGBTiQ.siswa yang memiliki kelainan khusus, katanya, sebenarnya berhakmendapatkan pendidikan yang layak di sekolah umum sebagaimana siswa normal lainnya.
Guru besar universitas Gadjah Madaini meminta agar peluncuran ’sekolah khuus’ ini tidak untuk mempromosikan kehidupan yang oleh mayoritas masyarakat masih dinilai menyimpan, seperti homoseksual, lesbian, dan biseksual. ” pokoknya, jangansampai terjadi promosi ha hal seperti ituselama berlangsung proses belajar mengajar,” tandasnya.
Berbeda dengan Mendiknas, kepalaDinas P dan k (P&K) jatim Rasiyo yang hadir dalam acara yang sama mendampingi Menteri Mendiknas, mengaku belum bisa menanggapi peuncuran LGBTiQ di Surabaya. ” saya belum tahu masalah itu,jadi belum bisamenanggapi,” kilahnya.
Diberitakan, aktivitas LGBTiQ yang tergabung dalam gAYa Nusantara melaunching sekolah khusus transgender, interseks, dan quee di surabaya Plaza Hotel. Skolah khusus ini merupakan yang pertama di Indonesia.
Sementara itu,sejumalah pihak juga menyayangkan peluncuran LGBTiQ. Alasannya, sekolah ini eksklusif dan membentengi kaum minoritas dari khalayak.
Ketua MUI jatim KH ShomadBukhori menegaskan, sekolah eksklusif semacam itu seharusnya tidakada. ” itu sama halnya menyalahi kodrat! Negara kita ini kan berasaskan pncasila, dimana isinya berketuhanan yang beragama. Kita lihat hakikatnya perilaku umat bragama masak ya seperti mereka itu,” kritiknya.
Seharusnya, kata Shmad, mereka berupaya memerangi yang salah kaprah dan tak perlu melegitimasi diri dengan membalutnyadalam bentuk pendidikan formal. Sejak dulu sampai kapanpun, lanjutnya, pemuasan nafsu sesama jenis itu melnggar hukum agama apapun.
”dalam hukumnegara itu juga diatur dalam undang undang perkawinan yaknidua insan laki dan perempuan.
Intinyasecara agama kaum gay, lesbian dan waria tidak pernah mendapat pengankuan,” jelasnya.
Secara kelembagaan, MUI sampai sejauh ini belum mendapat laporan langsung adnya aktivitasbelajar mengajar kaum gay,lesbian dan waria.(JP/Surya).
Laporan:Zainal Aqib

Seputar Pendidikan 1

ED Center Jatim
Harapan Punya Peran Strategis di Pendidikan



Education Development Center adalah sebuah lembaga khusus yang concern pada masalah pendidikan dengan harapan mampu menjadi media komunikasi dan interaksi yang intens bagi para stakeholders pendidikan.
Dengan visi dan misi untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Jawa Timur yang berpendidikan dengan memiliki kualitas imtaq dan iptek untuk meewujudkan sistem pendidikan yang kompetitif.
Dengan menggagas beberapa kegiatan progam, diantaranya adalah Cafe pendidikan, ED klinik, ED galeri, ED R & D (Research & Development), serta ED media yang kesemuanya akan diharapkan mampu untuk menunjang pendidikan yang berkualitas terutama di Jawa Timur.
Seperti yanng diungkapkan oleh Drs. H.Soeparno, MM selaku Direktur Utama ED Centre Jatim dalam kata sambutannya menyatakan bahwa tujuan didirikannya ED Centre ini adlah untuk menciptakan iklim kondusif dan kualitas kompetitif bagi dunia pendidikan nasional pada umumnya dan di Jatim pad khususnya melalui penyediaan data informsi seputar pendidikan, pengkajian terhadap kebijakan pendidikan dan penyediaan ruang bagi terjadinya dialog publik dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.
Menurutnya Education Development Index (EDI) Indonesia sebesar 0,935 dan Human Development Index (HDI) pada tahun 2007 adalah sebesar 0,728 masih jauh dibawah negara-negara seperti Malaysia (0,945) dan Brunei Darusslam (90,965)
”Angka ini memposisikan indonesia pada urutan ke-107 negara-negara di dunia. Rendahnya mutu SDM Indonesia tersebut terutama disebabkan masih lemahnya kontrol masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan nsional,”urainya.
Soeparno mengatakan bahwa salah satu faktor yang membelakangi adlah karena masih belum meratanya pendidikan di Indonesia terutama bagi kalangan miskin. Hal ini bisa kita lihat dari masih banyaknya terjadi kesenjangan antar desa dan kota, antar sekolah anak-anak miskin dan orang kaya.
”Di Jawa Timu, sebenarnya pencapaian angka partisipasi dalam sekolah dasar cukup menggembirakan. Penghargaan Widyakrama yang ditrima Jawa Timur merupakan bukti penilaian Pemerintah Pusat bahwa Jatim berhasil menyelesaikan program wajar dikdas (Wajib Belajar Pendidikan Dasar) 9 tahun. Dari 95% standar yang ditetapkan oleh pemeintah, Jatim berhasil memperoleh sebesar 96,84%,”tambahnya.
Sedangkan pidato pembukaan oleh Gubernur Jatim Imam Utomo dibacakan oleh Kadinas Infokom Jatim Drs. Suwanto, M.Si. Dalam pidatonya tersebut, Imam Utomo mengatakan bahwa menejemen pendidikan harus ditata dan bisa dilaksanakan dengan optimal.
”Menejemen pendidikan perlu untuk dprhatikan. Karena dengan menejemen yang baik dan dilaksanakandengan maksimal, nantinya tentu akan berimbas terhadap mutu pendidikan di Jawa Timur,”ucap Suwanto.
Sedangkan untuk membangun mutu dan mualitas pendidikan di Jatim, Imam Utomo telah mengatakan bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) adalah untuk memulai pembangunan pendidikan mulai dari pendidikan dasar yang bermutu.
”Melalui RPJMD sejak tahun 2006-2008 saja, selama dua tahun tersebut kami berusaha membangun mutu dan kualitas mulai dari pendidikan dasar Sehingga Jatim mampu menuntaskan wajar dikdas dengan angka partisipasi kasar (apk) sebesar 96,84% dari standar yanng ditetapkan oleh pemerintah sebesar 95%,”tambahnya.
Sementara itu, Gubernur yang akan meletakkan jabatannya tahun ini tersebut mengungkapkan bahwa wajar dikmen 12 tahun, yang akan meneruskan jejak wajar dikdas 9 tahun masih banyak kendala, akan tetapi Imam yakin bahwa masalah tersebut bukan menjadi masalah yang berarti.
”Wajar dikmen 12 tahun merupakan proyeksi Pemerintah Propinsi untuk rencana jangka menengah selanjutny. Masih banyak kekurangan sehinnga diperlukan upaya dan wujud kepedulian dari semua pihak untuk mengatasinya. Berkaitan dengan pemberia dana pendidikan bagi siswa yang tidak mampu akan dialokasikan dana 40% dari APBD Propinsi, 30% dari APBD Kab/Kota, dan 30% dari pencairan dana BOS,”ujarnya.

Cafe Pendidikan
Sebagai cafe, tempat ini juga tidak jauh berbeda dari kafe-kafe yang lain. Ada meja dan kursi ala cafe pada umumnya, ada waiters, kasir, dan menu pada setiap meja tamu.
Yang membedakan adalah fungsi dari kafe pendidikan yang dimiliki oleh ED Centre ini yaitu digunakan senagai ruang diskusi publik bagi pengunjungnya terutama yang berkaitan dengan maslah-masalah pendidikan di Jatim.
”Ini sebagai konsumsi pendidikan. Bagi yang merasa punya waktu dan ingin ngobrol atau diskusi santai tentanng pendidikan bisa disini (cafe pendidikan). Kami juga telah menggandeng beberapa expert pendidikan guna dimintai keterangan ataupun untuk menindaklanjuti apa yang telah didiskusikan dalam forum,”kata Soeparno serius.
Jadi image cafe sebagai tempat kumpul masih terjaga, serta mampu memberikan fungsi untuk ngobrol positif guna memajukan mutu dan kualitas pendidikan di Jatim pada khususnya.
Tapi Soeparno menyangkal kalau cafe pendidikan nantinya digunakan oleh orang berkepentingan lain untuk mengarahkan dan mengubah wacana pendidikan didalam masyarakat.
”Tidak, kami akan memposisikan diri kamidi tengah-tengah. Dan kami hanya ingin memfasilitasi bagi stakeholders pendidikan untuk bisa mencurahkan segala keluh kesah, opini, serta membahas issue public yang berkaitan dengan pendidikan dan penelitian,”tambah Soeparno.
Menurutnya akan ada banyak kegiatan yang terjadwal dan akan dilaksanakan di cafe pendidikan.
Diantaranya adalah diadakannya Focus Group Disscusion yang diselenggarakan secara berkala (peiodik) dengan menghadirkan expert dan pakar pendidikan, pengelola pendidikan, guru, jurnalis, mahasiswa, siswa, wali siswa dan seluruh stakeholders pendidikan untuk menghasilkan gagasan yang konstrutif bagi pembagunan pandidikan Jawa timur ke depan.
Selain itu, Talk Show dan pemutaran Audio Visual serta Bedah Buku akan menjadi nilai plus bagi cafe pendidikan ini. Selain untuk menambah khasanah pengetahuan, setiap hasil dari forum diskusi akan menjadi media building issue yang nantinya akan dimuat dan disebarkan melalui media massa.
Soeparno juga mengatakan bahwa ide dan konsep awal dibentuknya ED Centre merupakan pengalamannya didunia pendidikan yang telah dijalaninya puluhan tahun.
”Ide ini berangkat dari pengalaman saya begelut didunia pendidikan yang cukup lama. Mutu pendidikan dari SDM di Indonesia yang masih kalah dibandingkan negara-negara lain. Jadi ED Centre ini adalah untuk membantu pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dengan cara mewujudkan standar minimal mutu pengelola pendidikan, terutama berkaitan dengan profesionalisme guru, manajemen dan administrasi sekolah.
Harapannya adalah untuk mensinegiskan pola keja antara Diknas dengan berbagai lembaga mutu pendidikan,”ungkapnya penuh harapan.@Sony

Ragam Info Pendidikan 1

Apakah Kegiatan Non Akademik Bisa Mengganggu Akademik

Problamatik memang, pabila sekolah memperlakukan dengan ketat para siswanya agar mengikuti berbagai kegiatan program sekolah. Kegiatan yang telah terprogram di sekolah ada berbagai pembelajaran. Ada bidang akademik, ada ekstra kulikuler, ada pembelajaran yang bersifat praktek dan adapula kegiatan yang diluar sekolah. Misalnya mengikuti lomba_lomba, festifal, penelitian dan berbagai macam kegiatan siswa diluar sekolahnya.
Dan ini semua apakah bisa menurunkan bobot akademik bagi siswa ? Misalnya bisa menurunkan rengking nilai rata-rata Unas. Atau juga bisa menurunkan prestasi nilai pembelajaran yang bersifat akademik lainya. Dra. Catur, Guru Bimbingan Konseling SMA Negeri 7 Surabaya tatkala ditanya masalah hal ini mengutarakan bahwa banyaknya kegiatan yang bersifat non akademik bisa menurunkan prestasi akademik.”Mungkin siswa banyak kegiatan di luar ya. Itu kemungkinan juga. Bisa salah satu faktornya adalah siswa banyak melakukan keiatan diluar sekolah juga bisa menurunkan nilai akademik,termasuk nilai Unas.” katanya serius
Memang banyak sekolah yang dulunya bisa mencapai nilai rata-rata tertinggi dalam nilai Unas, namun dalam periode berikut malah tergeser dengan sekolah lain. Banyaknya kegiatan yang diluar sekolah, atau banyaknya ekstra kulikuler jga akan berpengaruh. Apabila sekolah mengharuskan untuk mengikuti semua program sekolah, ternasuk bidang non akademik
”Ini kan membuat banyak siswa kecapekan. Pagi sudah belajar dengan penuh waktu, siang atau sore masih ada saja kegiatan sekolah.
Belum apabila banyak kegiatan diluar sekolah. Memang banyak juga yang mempunyai daya tahan prima, tetapi banyak juga yang capek. Bayangkan berangkat sekolah pagi hari, dan pulang sore hari. Mangkanya apabila ada sekolah yang kegiatanya padat, ya harus diatur irama waktunya, agar tidak bosan, capek. Kalau sudah demikian maka tidak menutup kemungkinan akan bisa menurunkan prestasi akademiknya,”ujar Dr. Gempur Santosa, Pengurus dewan Pendidikan Jawa Timur.
Drs. Kartoyo, M. Pd, Kasim Darmo, S. Pd, MM, keduanya Guru Bimbinngan konseling SMK 17 Agustus Surabaya juga mengutaran bahwa pendidikan itu seyogyanya santai, enjoi, joyfull dan penuh keluwesan. Sebab menurut keduanya mendidik manusia itu bukan hanya mengisi ilmu semata pada dataran kognisi,tetapi jga mendidik mental spiritualnya. ”Nah karna itu sekolah harus luwes
Sebab dari sekian ratus anak didik jelas mempuntai karakter yang berbeda-beda. Ada siswa yang cukup di beriperingatan sekali, ada juga yang berkali-kali. Menghadapi ragam sifat siswa ini jelas membutuhkan kiat yang beda pula.”kata Kartoyo dan kasim usai pengumuman hasil Unas beberapa waktu yang lalu.
Sementara itu Achmad kosim S.Ag, Wakasek kesiswaan dan Drs. M. Robin, Wakasek kurikulum, SMK prapanca Surabaya mengutarakan bahwa pembelajaran akademik dan non akademik harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak menggangu pembelajaran yanng satu dengan yang lainnya.”Keduanya sangat penting. Sebab ada siswa yang berbakat dibidang seni dan sastra. Ada pula yang bakat dibidang sastra. Mangkanya seyogyanya sekolah harus pandai-pandai mengenal bakat dan minat anak didiknya.” Ujar keduanya diruang guru pada INFO.@pudianto

Ragam Info Pendidikan 2

Kenapa masih ada tes masuk ?

Banyak daerah yang memberlakukan tes bagi siswa yang ingin meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.Misalnya dari lulusan SD ke SMP.Dari SMP ke SMA.Padahal mereka sudah lulus unas yang kapasitasnya berstandar nasional. Hasil Unas, yang berstandar Nasional masih harus dites dengan standar daerah. Rancu memang.
Lulusan Unas walau meraih nilai baik daan bernilai pas-pasan apabila ingin masuk kejenjang yang lebih atas,harus mengikuti tes daerah. Misal diKabupaten Gresik, Sidoarjo, kabupaten Madiun dan banyak lagi. Namun juga masih ada daerah yanng masih menggunakan hasil kelulusaan Unas.
Fenomena apa ini ? Dr. Gempung Santosa, PengurusDewan Pendidikan Daerah Jawa Timur mengatakan bahwa daerah yang masih menggunakan tes bagi Penerimaan Siswa Baru (PSB) itu sama halnya tidak percaya pada nilai murni Unas (Danem). Mungkin meragukan akan nilai hasil jerih payah anak didik dalam menempuh Unas. Mangkanya harus lewat tes di daerah.” Ujarnya dengan senyum sinis”
Sementara itu gasil jelajah INFO dengan orang tua murid saat pendaftaran di daerah Sidoarjo, Gresik dan banyak tempat lainya juga mengutarakan bahwa disamping tes juga disertai pula Surat Rekomendasi dari daerahnya masing-masing.Persyaratan surat rekomendasi sangat banyak dan tidak mungkin membutuhkan waktu singkat. Ada surat pengantar kepala Sekolah ke cabang Dinas setempat. Ada kartu ujian, Ada rapot terakhir, Ada pass photo, Ada nilai hasil Unas (Danem), KTP Orang tua murid.” Yang semuanya harus diberikan kepada dinas pendidikan Kota/Kabupaten. Dan baru bisa mendapatkan Surat Rekomendasi. Ini salah satu syarat mendaftar di lain kota. Belum syarat-syarat lainnya. Itu saja belum tentu lulus,” keluh Susisto yang putranya lulus SD Surabaya dan mendaftar ke lain daerah karna mengikuti pekerjaan oranng tua yang pindah pula.
”lho anak saya sudah tes. Padahal nilai Unas anak saya cukup lumayan, rata-rata 8 lebih. Dengan lewat tes, bisa-bisa hasil Unas yang baik bisa tidak lulus.Dan tidak menutup kemungkinan yang hasil Unas pas-pasn bisa lulus tes PSB,” ujar ibu Ririn di Bungah, Gresik saat mengambil formulir pendaftaran untuk putranya.
Ujian, tes, seleksi atau apalah namanya penyogyanya harus melalui bobot dan jenjang yang jelas. Ada Ujian /tes setingkat kabupaten dan kota (Ujida) dan ada pula ujian yang berstandart nasional. Ini semua harus ditata agar tidak rancu di lapangan.” Wong sudah lulus tingkat nasional, masih diragukan dengan jalan di tes lagi di daerah. Nanti kalau tes disaerah sudah lulus masih di tes ditingkat sekolah. Wah ini rancu namanya.” kata Salim Bahrowi pada saat pendaftaran.
Pemerhati pendidikan Drs. Heru Wijanarko mengutarakan bahwa fenomena ini adalh cermin ketidakpercayaan sesama lembaga pendidikan. Bisa juga sudah kronis, dan semua daerah sudah menngunggulkan daerahnya masing-masing.”Semua ingin gagah-gagahan.Ingin lain dengan yang lain. Ini sudah payah. Hasil Ujian Nasional masih diragukan lagi dengan harus mengikuti Ujian Daerah masih diragukan dan dan harus mengikuti Ujian Sekolah. Ujian sekolah masih diragukan dengan dan harus mengikuti Ujian Dari Guru masing-masing. Ini budaya apa yang berkembang. Semua tidak percaya dengan semua. Inginya lebih unggul saja. Kalau seperti ini ya tidak usah di adakan Ujian Nasional (Unas). Langsung aja Ujian Sekolah masing-masing. Ingin masuk SMP, ya SMP setempat yang menguji. Ingin masuk SMA, ya SMA setempat yang menguji. Ini lebih Liberal kan.”keluh Heru Wijanarko @ Pudianto